Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Monday, March 14, 2011

Pertempuran sekigahara


Pertempuran Sekigahara (関ヶ原の戦い sekigahara no tatakai?) adalah pertempuran yang terjadi tanggal 15 September 1600menurut kalender lunar (21 Oktober 1600 menurut kalender Gregorian) di Sekigahara, distrik Fuwa, Provinsi Mino, Jepun.
Pertempuran melibatkan pihak yang dipimpin Tokugawa Ieyasu melawan pihak Ishida Mitsunari sehubungan perebutan kekuasaan sesudah wafatnya Toyotomi Hideyoshi. Pertempuran dimenangkan oleh pihak Tokugawa Ieyasu yang memuluskan jalan menuju terbentuknya Keshogunan Tokugawa.
Dendam akibat Pertempuran Sekigahara berperan dalam melahirkan gerakan menggulingkan pemerintahan Keshogunan Edo di abad ke-19 yang dimulai dari wilayah han Satsuma dan Chōshū.
Pihak yang bertikai dalam pertempuran ini terbagi menjadi kubu Tokugawa (Pasukan utara) dan kubu pendukung puak Toyotomi (Pasukan Barat). puak Toyotomi sendiri tidak memihak salah satu pihak yang bertikai dan tidak ambil bagian dalam pertempuran.
Setelah pertempuran selesai, kekuasaan tentera cenderung berhasil dikuasai pihak Tokugawa sehingga Pertempuran Sekigahara juga terkenal dengan sebutan Tenka wakeme no tatakai (天下分け目の戦い? pertempuran yang menentukan pemimpin Jepun).
Pada saat terjadinya pertempuran belum digunakan istilah Pasukan Barat dan Pasukan Timur. Kedua istilah tersebut baru digunakan para sejarawan di kemudian hari untuk menyebut kedua belah pihak yang bertikai.

LATAR BELAKANG

PERSELISIHAN DI DALAM PEMERINTAHAN TOYOTOMI

Pemerintah Toyotomi yang berhasil menjadi pemersatu Jepun menyangkal keberadaan pertentangan tajam antara faksi bersenjata bentukan pemerintah dan pihak birokrat yang terdiri dari pejabat tinggi pengatur kegiatan beragama, ekonomi dan pemerintahan. Faksi bersenjata terdiri dari komandan tentera pro puak Toyotomi yang pernah diturunkan di garis depan perang penaklukan Joseon. Bentrokan langsung antar faksi bersenjata dan pihak birokrat dapat dicegah oleh Toyotomi Hideyoshi dan adik kandungnya yang bernama Toyotomi Hidenaga.
Pertentangan menjadi semakin panas setelah pasukan ditarik mundur dari Joseon dan wafatnya Toyotomi Hidenaga di tahun 1591. Di akhir hayatnya, Toyotomi Hideyoshi mengambil sumpah setia para pengikut loyal yang terdiri dari dewan lima menteri dan lima orang pelaksana administrasi untuk membantu pemerintahan yang dipimpin Toyotomi Hideyori. Pertentangan di kalangan tentera pengikut Hideyoshi mencuat ke permukaan sejak wafatnya Toyotomi Hideyoshi pada bulan Agustus 1598 di Istana Fushimi.
Tokugawa Ieyasu merupakan salah satu anggota dari dewan lima menteri yang menjadi tokoh yang sangat berpengaruh. Ieyasu mengatur pembagian wilayah untuk para daimyo berikut nilai kokudaka untuk setiap wilayah. Ieyasu juga menghapus pelarangan ikatan perkawinan di antara keluarga para daimyo yang berlaku di zaman pemerintahan Hideyoshi. Maeda Toshiie yang bertentangan dengan Tokugawa Ieyasu juga diharuskan menandatangani perjanjian non-agresi dengan Ieyasu.
Setelah Maeda Toshiie wafat di bulan Maret tahun berikutnya (1599), bentrokan bersenjata terjadi antara faksi birokrat pimpinan Ishida Mitsunari dan faksi bersenjata pimpinan kelompokKatō Kiyomasa, Fukushima Masanori dan 7 komandan tentera. Ishida Mitsunari kabur bersembunyi ke rumah kediaman Ieyasu dan dituduh Ieyasu bertanggung jawab atas terjadinya bentrokan. Ishida Mitsunari lalu dipecat sebagai anggota pelaksana pemerintahan dan dikenakan tahanan rumah di Istana Sawayama.
Ada pendapat yang meragukan cerita Ishida Mitsunari yang kabur bersembunyi di rumah kediaman Ieyasu, kerana peristiwa ini tidak didukung bukti sejarah yang kuat.
Kekuatan penentang Tokugawa Ieyasu tamat dengan habisnya karier politik Ishida Mitsunari dan kepulangan para anggota dewan lima menteri ke daerah masing-masing. Tokugawa Ieyasu yang tidak lagi mempunyai lawan politik memimpin pasukan dari Istana Fushimi untuk berangkat ke Osaka dan memimpin pemerintahan dari Istana Osaka.
Tokugawa Ieyasu kemudian berusaha merebut kekuasaan pemerintah dengan cara memanfaatkan pertentangan antara faksi tentera dan faksi birokrat di dalam pemerintahan Toyotomi yang semakin melemah.

Pemicu peperangan

Akibat terungkapnya rencana pembunuhan Tokugawa Ieyasu yang didalangi Maeda Toshinaga (putra pewaris Maeda Toshiie), anggota dewan lima pelaksana pemerintahan yang terdiri dari Asano Nagamasa, Ōno Harunaga dan Hijikata Katsuhisa ikut menjadi tersangka sehingga dipecat dan dikenakan tahanan rumah. Pasukan Toyotomi yang dibawah perintah Ieyasu berusaha menangkap Maeda Toshinaga yang dituduh sebagai dalang pemberontakan. Atas tuduhan pemberontakan ini, Maeda Toshinaga menunjukkan bahwa dirinya merupakan pengikut pemerintah Toyotomi yang setia dengan memberikan ibu kandungnya Hōshun-in (Matsu) kepada Ieyasu untuk disandera.
Memasuki tahun 1600, Tokugawa Ieyasu menggunakan kesempatan kaburnya Fujita Nobuyoshi (mantan pengikut puak Uesugi) untuk mengkritik Uesugi Kagekatsu penguasa Aizu yang dituduh telah memperkuat diri secara tentera. Ieyasu juga memperingatkan kemungkinan Uesugi Kagekatsu bertujuan menyerang Kyoto sekaligus meminta Kagekatsu untuk datang ke Kyoto untuk menjelaskan duduk persoalan.
Penasehat Kagekatsu yang bernama Naoe Kanetsugu menolak tuduhan Ieyasu, tapi pasukan pemerintah Toyotomi mulai menyerang posisi Kagekatsu. Tokugawa Ieyasu yang ditunjuk sebagai panglima gabungan memimpin pasukan para daimyo yang loyal terhadap Toyotomi untuk menuju ke wilayah kekuasaan Uesugi di Aizu.
Sepeninggal Ieyasu yang berangkat ke Aizu, Ishida Mitsunari yang selesai dikenakan tahanan rumah kembali berkelompok dengan Ōtani Yoshitsugu, anggota dewan pelaksana administrasi Mashida Nagamori dan Ankokuji Ekei. Kelompok Mitsunari mendapat dukungan tentera dari pasukan Mōri Terumoto yang bersama-sama membentuk Pasukan Barat. Kelompok Mitsunari berencana untuk menyandera istri dan anak-anak para daimyo pengikut Ieyasu sebelum mengangkat senjata melawan pasukan Ieyasu.
Ieyasu menyadari pergerakan tentera Mitsunari sewaktu berada di Oyama (provinsi Shimotsuke) berdasarkan laporan pengikutnya yang bernama Torii Mototada yang tinggal di Istana Fushimi. Ieyasu yang sedang dalam perjalanan untuk menakluki Uesugi Kagekatsu di Aizu segera membatalkan rencana menyerang Kagekatsu. Ieyasu lalu mengadakan pertemuan dengan para daimyo pengikutnya mengenai strategi menghadapi Ishida Mitsunari. Pertemuan ini dikenal sebagai Perundingan Oyama. Daimyo seperti Sanada Masayuki dan Tamaru Tadamasa melepaskan diri dari pasukan Ieyasu, tapi sebagian besar daimyo ternyata memutuskan untuk terus mendukung Ieyasu. Pasukan Ieyasu kemudian menuju ke arah barat untuk kembali ke Kyoto.
Penjelasan lain mengatakan penakluki Uesugi Kagekatsu semata-mata digunakan Tokugawa Ieyasu sebagai alasan untuk dapat bentrok dengan pasukan Mitsunari. Daerah Kinaisengaja dibiarkan tidak terjaga untuk mengundang pergerakan pasukan Mitsunari. Istana Fushimi sengaja ditinggalkan pasukan Ieyasu dan hanya dijaga pasukan Torii Mototada untuk memancing penyerangan dari pasukan Mitsunari.
Pihak yang saling berhadapan dalam Pertempuran Sekigahara tidak bisa dengan mudah dibagi dua menjadi Pasukan Timur yang terdiri dari pasukan Tokugawa dan Pasukan Barat adalah pasukan Toyotomi. Ada pendapat yang mengatakan Pasukan Timur justru terdiri dari pasukan reguler di bawah pemerintah Toyotomi, sedangkan Pasukan Barat justru merupakan pasukan pemberontak. Keberadaan Pasukan Barat hampir-hampir tidak diketahui oleh tokoh-tokoh penting dalam pemerintahan Hideyori. Beberapa pejabat tinggi yang tidak setuju dengan pergerakan Pasukan Barat juga mengambil sikap pura-pura tidak tahu.


[sunting]

Tuesday, February 22, 2011

SALAHUDDIN AL-AYUBI

Oke,hamba Allah ini merupakan orang yang aku kagumi selepas Nabi Muhammad dan Salleh bin Kanan,Aku sangat menyukai cara nye memerintah sebuah kerajaan dan die dikagumi oleh seluruh dunia termasuklah Raja Richard.

YUSUF BIN AYYUB


Salahuddin al-Ayyubi (Arab: صلاح الدين الأيوبي / Ṣalāḥ al-Dīn al-Ayyubīy‎, bahasa Kurdi: سه‌لاحه ‌دينێ ئه ‌يووبى / Silhedînê Eyûbî, Parsi: صلاح الدین ایوبی, Turki: Selahaddin Eyyubi) atau nama sebenarnya Yusuf bin Ayyub (1137 -1193) mengasaskan dinasti Ayyubi bangsa Kurdis di Mesir dan Syria. Di Barat beliau dikenali sebagai Saladin. Dia juga terkenal dalam kalangan Nasrani dan Muslim dengan kebolehannya sebagai ketua dan ketangkasannya dalam peperangan yang disertai juga dengan sifat kesateriaan dan belas kasihannya semasa Perang Salib.




SEJARAH TENTANG SALAHUDDIN AL AYYUBI



Salahuddin dilahirkan di dalam sebuah keluarga Kurdish di Tikrit dan dihantar keDamsyik untuk menghabiskan pelajarannya. Ayahnya, Najm ad-Din Ayyub, ialah gabenor wilayah Baalbek. Selama 10 tahun Salahuddin tinggal di Damsyik di kawasan istana milik Nur ad-Din.
Salahuddin menerima latihan ketenteraan daripada bapa saudaranya, Shirkuh yang juga ketika itu merupakan panglima kepada Nur al-Din dan sering mewakili Nur al-Din dalam kempennya menentang Kerajaan Fatimiyyah di Mesir sekitar tahun 1160. Salahuddin kemudiannya mewarisi tugas menentang Kerajaan Fatimiyyah (akhirnya tumpas) daripada bapa saudaranya dan dilantik menjadi panglima pada tahun 1169. Di sana, dia mengambil alih tugas sukar mempertahankan Mesir daripada diserang tentera Salib dibawah Kerajaan Latin Baitulmuqaddis pimpinan Almaric I. Kemampuan Salahuddin diragui pada peringkat awal perlantikkannya sebagai panglima. Tiada sesiapa yang menyangka beliau dapat bertahan lama ekoran terdapat banyak perubahan dalam kerajaan dalam tahun sebelumnya seperti perebutan kuasa oleh gabenor-gabenor yang sedia ada dalam mendapat perhatian khalifah. Sebagai seorang ketua tentera asing dari Syria, Salahuddin tiada kuasa ke atas askar-askar Mesir yang terdiri daripada golongan Syiah yang ketika itu dipimpin oleh Khalifah Al-Adid.
Apabila khalifah itu meninggal dunia pada bulan September 1171, Salahuddin mengarahkan para imam mengumumkan nama Khalifah Al-Mustadi (Khalifah Abbasiyyah di Baghdad) semasa solat Jumaat. Sekarang, walaupun Salahuddin yang memerintah Mesir tetapi hanya sebagai wakil Nur ad-Din. Selepas dilantik menjadi pemimpin Mesir, Salahuddin melakukan perubahan terhadap ekonomi Mesir, menyusun semula angkatan tentera, dan menuruti nasihat ayahnya supaya mengelak daripada sebarang konflik dengan Nur ad-Din. Beliau menunggu sehingga Nur ad-Din meninggal dunia sebelum memulakan beberapa siri kempen ketenteraan. Pada awalnya terhadap beberapa kerajaan-kerajaan Muslim yang kecil kemudian ke atas tentera Salib. Dengan kewafatan Nur ad-Din pada tahun 1174, beliau menjadi Sultan Mesir. Beliau kemudian mengisytiharkan kemerdekaan daripada kerajaan Seljuk dan mengasaskan Kerajaan Ayubbiyyah. Beliau turut mengembalikan ajaran Sunah Waljamaah di Mesir.

MENENTANG TENTERA SALIB

Dalam dua peristiwa berbeza iaitu pada tahun 1171 dan 1173, Salahuddin berundur setelah satu siri serangan oleh tentera Salib. Salahuddin berharap bahawa kerajaan Salib ini tidak diganggu selagi beliau tidak menguasai Syria. Nur ad-Din dan Salahuddin hampir-hampir berperang akibat daripada peristiwa tetapi dengan wafatnya Nur ad-Din pada 1174, perang ini dapat dielakkan. Waris Nur ad-Din iaitu as-Salih Ismail al-Malik hanya seorang kanak-kanak ketika dilantik bagi menggantikan ayahnya. Walau bagaimanapun dia meninggal dunia pada tahun 1181.
Sejurus selepas Nur ad-Din meninggal dunia, Salahuddin berarak ke Damsyik, dan setibanya beliau di sana, dia diberi sambutan sambutan yang meriah. Dia mengukuhkan kedudukannya dengan mengahwini balu Nur ad-Din. Walaupun Salahuddin tidak memerintah Aleppo dan Mosul (dua bandar yang pernah dikuasai Nur ad-Din), beliau dapat menggunakan pengaruhnya dan menguasai kedua bandar itu pada tahun 1176 (Aleppo) dan 1186 (Mosul).
Sementara Salahuddin Al-Ayubbi menumpukan perhatiannya ke atas wilayah-wilayah di Syria, negeri-negeri Salib dibiarkan bebas, walaupun begitu beliau sering mencatatkan kemenangan ke atas tentera Salib di mana saja kedua-dua belah pihak bertempur. Beliau bagaimanapun tumpas dalamPerang Montgisard yang berlaku pada 25 November, 1177. Dia ditewaskan oleh gabungan tenteraBaldwin IV dari Baitulmuqaddis, Raynald dari Chatillon dan Kesatria Templar.
Keamanan di antara Salahuddin dan negeri-negeri Salib tercapai pada 1178. Salahuddin meneruskan serangannya pada 1179 selepas daripada kekalahannya dalam Perang Montsigard, dan dalam serangannya ke atas sebuah kubu kuat tentera Salib beliau berjaya menumpaskan tentera Salib. Walau bagaimanapun, tentera Salib terus menyerang orang-orang Muslim. Raynald dari Chatillon mengganggu laluan perdagangan dan haji orang Islam dengan kapal-kapal laut di Laut Merah. Raynald juga mengancam menyerang kota suci Islam yakni Kota Mekah dan Madinah menjadikannya orang paling dibenci dalam dunia Islam. Sebagai tindak balas, Salahuddin Al-Ayubbi menyerang Kerak, sebuah kubu Raynald pada tahun 1183 dan 1184. Raynald kemudian menyerang dan membunuh kabilah yang dalam perjalanan untuk menunaikan haji pada tahun 1185.
Dalam bulan Julai tahun 1187, Salahuddin menyerang negeri-negeri Salib. Pada 4 Julai 1187, beliau bertempur dalam Pertempuran Hattinmenentang gabungan kuasa Guy dari Lusignan (sebutan gi bukan guy), raja negeri-negeri Salib, dan Raymond III dari Tripoli. Tentera Salib yang letih dan dahagakan air mudah ditumpaskan oleh tentera Salahuddin. Kekalahan tentera Salib ini membei tamparan yang besar buat mereka dan menjadi satu titik perubahan dalam sejarah Perang Salib. Salahuddin berjaya menangkap Raynald dan beliau sendiri memancung kepala Raynald akibat kesalahannya. Raja Guy juga berjaya ditangkap tetapi beliau tidak dipancung.
Timur Tengah, c. 1190. Empayar Salahuddin Al-Ayubbi dan wilayah kuasaannya ditunjukkan dalam waarna merah; wilayah yang berjaya ditawan daripada tentera Salib dalam warna merah jambu. Warna hijau muda menandakan wilayah yang masih dikuasai tentera Salib.
Selepas tamatnya Perang Hattin, Salahuddin berjaya merampas kembali hampir keseluruhan kota-kota yang dikuasai tentera Salib. Beliau berjaya menawan semulaBaitulmuqaddis (Jerusalem) pada 2 Oktober tahun 1187 selepas hampir 88 tahun kota itu dikuasai tentera Salib (lihat Kepungan Baitulmuqaddis). Kecuali bandar Tyretidak ditawan Salahuddin. Salahuddin membenarkan tentera dan masyarakatKristian pergi ke sana. Kota itu sekarang diperintah oleh Conrad dari Montferrat. Dia mengukuhkan pertahanan Tyre dan berjaya menahan dua kepungan yang dilakukan oleh Salahuddin. Pada tahun 1188, Salahuddin membebaskan Guy dari Lusignan dan menghantar beliau kembali kepada isterinya iaitu Sibylla dari Baitulmuqaddis.
Perang Hattin dan kejayaan tentera Islam menawan semula Baitulmuqaddismengakibatkan terjadinya Perang Salib Ketiga yang dibiayai di England melalui cukai khas yang dikenali sebagai "Cukai Salahuddin". Tentera Salib ini berjaya menawan semula Acre, dan tentera Salahuddin bertempur dengan tentera RajaRichard I dari England (Richard Si Hati Singa) dalam Perang Arsuf pada 7 September 1191. Kedua-dua belah pemimpin baik Salahuddin mahupun Richard amat menghormati antara satu sama lain. Mereka juga pernah bercadang untuk berdamai dengan mengahwinkan adik perempuan Richard, Joan dari Englandkepada adik lelaki Salahuddin, Al-Adil, dengan kota Baitulmuqaddis menjadi hantarannya. Rundingan ini gagal ekoran kebimbangan berhubung hal-hal agama di kedua-dua belah pihak.
Kedua-dua pemimpin mencapai persetujuan dalam Perjanjian Ramla pada tahun 1192 yang mana kota Baitulmuqaddis akan terus berada dalam tangan orang Islam tetapi dibuka kepada penganut-penganut Kristian. Perjanjian itu menjadikan negeri-negeri salib hanyalah gugusan kecil di sepanjang pesisir pantai Tyre hingga ke Jaffa.
Salahuddin Al-Ayubbi wafat pada 4 Mac 1193 di Kota Damsyik tidak lama selepas pemergian Raja Richard. Apabila mereka membuka peti simpanan Salahuddin untuk membiayai upacara pengebumiannya, mereka mendapati ia tidak cukup (diriwayatkan Salahuddin hanya meninggalkan sekeping wang emas dan empat wang perak semasa kematiannya. Ada juga riwayat yang menyebut wang itu henyalah wang 5 Dinar) . Salahuddin telah memberikan hampir kesemua hartanya kepada rakyat-rakyatnya yang miskin. Makamnya yang terletak di Masjid Ummaiyyah merupakan tumpuan tarikan pelancong yang terkenal. Makamnya adalah antara makam yang sering dikunjungi umat Islam di seluruh dunia.

PENGIKRAFAN

Sungguhpun menerima tentangan hebat dari masyarakat Kristian Eropah, Salahuddin mendapat reputasi besar di Eropah sebagai seorang kesatria yang berjaya, sehinggakan wujudnya pada abad ke-14 sastera epik mengenai kejayaannya, dan Dante meletakkannya di kalangan roh baik dalamLimbo. Salahuddin muncul sebagai sebuah watak dalam karya tulisan Sir Walter Scott iaitu The Talisman (1825). Walaupun disebalik peristiwa penyembelihan orang-orang Islam termasuklah wanita dan kanak-kanak semasa tentera Salib menawan Baitulmuqaddis pada tahun 1099, Salahuddin memberi jaminan keselamatan perjalanan dan nyawa kepada semua masyarakat Kristian Katolik dan juga kepada tentera salib Kristian yang kalah (masyarakat Greek Ortodoks dilayan dengan lebih baik kerana mereka menentang tentera Salib). Satu pandangan menarik tentang Salah al-Din dan dunia yang didiaminya dapat dibaca dalam novel Buku Salahuddin Al-Ayubbi (London: Verso, 1998) karya Tariq Ali.
Walaupun berbeza kepercayaan, Salahuddin Al-Ayubbi amat dihormati di kalangan para bangsawan Kristian terutamanya Raja Richard. Raja Richard pernah memuji Salahuddin sebagai seorang putera agung dan merupakan pemimpin paling hebat dalam dunia Islam. Salahuddin juga memuji Richard dengan berkata bahawa beliau lebih rela Baitulmuqaddis jatuh ke tangan Richard daripada jatuh ke tangan orang lain. Selepas perjanjian damai ditandatangani, Richard dan Salahuddin bertukar-tukar hadiah di antara satu sama lain sebagai lambang kehormatan. Walau bagaimanapun kedua-dua pemimpin ini tidak pernah bersua muka.

Saturday, February 5, 2011

Cyrus The Great


Cyrus the Great (Old Persian,[2] IPA: [kʰuːruʃ], Kūruš,[3]Persian: کوروش بزرگ, Kūrosh-e-Bozorg) (c. 600 BC or 576 BC – December[4][5] 530 BC), also known as Cyrus II or Cyrus of Persia,[6]was the founder of the Persian Empire under the Achaemenid dynasty.[7] Under his rule the empire embraced all the previous civilized states of the ancient Near East,[7] expanded vastly and eventually conquered most of Southwest Asia and much of Central Asia, parts ofEurope and Caucasus. From the Mediterranean sea and the Hellespontin the west to the Indus River in the east, Cyrus the Great created the largest empire the world had yet seen.[8]
The reign of Cyrus the Great lasted between 29 and 31 years. Cyrus built his empire by conquering first the Median Empire, then the Lydian Empire and eventually the Neo-Babylonian Empire. Either before or after Babylon, he led an expedition into central Asia, which resulted in major campaigns that brought "into subjection every nation without exception."[9] Cyrus did not venture into Egypt, as he himself died in battle, fighting the Massagetae along the Syr Darya in December 530 BC.[10][11] He was succeeded by his son, Cambyses II, who managed to add to the empire by conquering Egypt, Nubia, and Cyrenaica during his short rule.
Cyrus the Great respected the customs and religions of the lands he conquered.[12] It is said that in universal history, the role of theAchaemenid empire founded by Cyrus lies in its very successful model for centralized administration and establishing a government working to the advantage and profit of its subjects.[7] In fact, the administration of the empire through satraps and the vital principle of forming a government at Pasargadae, were the works of Cyrus.[13] Aside from his own nation, Persia (modern Iran), Cyrus the Great also left a lasting legacy on the Jewish religion through his Edict of Restoration, where because of his policies in Babylonia, he is referred to by the people of the Jewish faith, as "the anointed of the Lord." [14][15]
Cyrus the Great is also well recognized for his achievements in human rights, politics, and military strategy, as well as his influence on bothEastern and Western civilizations. To date Cyrus the Great and his historical signature define the national identity for many Iranians.[16]Cyrus and indeed the Achaemenid influence in the ancient world also extended as far as Athens, where many Athenians, adopted aspects of the Achaemenid Persian culture as their own, in a reciprocal cultural exchange.[17]